Tuesday, July 11, 2017

on Leave a Comment

Bismillaah: Lebaran Hari Ini, Kurang Bisa Diyakini. ( Penentuan 1 Syawal 1438 H/ 2017)

Bismillaah: Lebaran Hari Ini, Kurang Bisa Diyakini.
Mempertimbangkan bahwa:
a- Sesuai dengan fatwa Rahbar hf bahwa pengumumnan pemerintahan yang bukan Islam itu juga bisa dipakai asal diyakini kebenerannya baik dalam sistemnya yang memakai rukyat dan juga atas kebenaran rukyatnya,
b- Sangat sulitnya melihat bulan di posisi 3 derajat lebih,
c- Tidak didasarkannya penyaksian (rukyat) dalam Syi'ah pada sumpah seperti yang dipakai pemerintahan, melainkan memakai sistem keadilan perukyat (adil yakni tidak melakukan dosa besar dan kecilnya seorang saksi yang merukyat bulan),
Maka dengan ini bagi yang tidak yakin atas kebenaran pengumuman pemerintah itu, maka hari ini tetap wajib puasa. Dan bagi yang ragu, juga dihukumi wajib puasa. Bagi yang yakin terhadap kebenaran pengumuman pemerintah, kalau keyakinannya ilmiah dan bisa dibuktikan, yaitu bahwa pengumuman pemerintah itu benar adanya bahwa telah berdasarkan rukyat, maka bisa menjadikan hari ini (Minggu). sebagai hari lebaran.
NB: Kalau yang terkena hukum puasa seperti di atas itu, maka kalau ingin berlebaran dengan yang lain, hendaknya melakukan safar, lalu batalkan di batas safar tersebut, lalu pulang untuk melakukan ied bersama yang lain dan nanti puasanya yang sekarang itu diqadhaa' di kemudian hari.
Wassalam
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari
24 Komentar
Komentar

Frans Fauzan Salam ustadz, pagi tadi saya melakukan safar tp saya membatalkan puasa saya setelah saya sampai lg d kota tempat saya tinggal,, dan jga saya tidak melakukan sholat eid karna d4 saya sdh melaksanakan sholat, klu besok saya melaksanakan sholat eid bersama jamaah ahlulbait, bolehkah?
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 7:52

Orlando Banderas Frans, kok membatalkannya di kota awal ? Setahu saya kalau sudah kembali ke tempat tinggal, sudah wajib puasa.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 19:27

Frans Fauzan Orlando Banderas blm tau kang,, 😀
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 19:52

Orlando Banderas he..he...coba kita tunggu Ust SA.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas
2
25 Juni pukul 19:55

Sinar Agama Kalau sampai ke kota awal itu setelah Zhuhur, maka tidak masalah karena memang wajib putus. Tapi kalau sebelum Zhuhur, dan tidak membatalkan puasanya di waktu safar tapi membatalkannya di tempat kota asalnya, maka disamping dosa, kena qadhaa' dan juga kaffarah.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 4:40

Frans Fauzan Ya ustadz, apakah Hukum itu berlaku bg yg jahil (tdk tahu) thdp hukum.??
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 12:51


Al Fauzi Selamat ber Idl firi ustast
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 7:55

Andika Syukron ustad.. Allahumma sholli ala Muhammad wa Aali Muhammad..
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas
2
25 Juni pukul 8:34

Yoga Dariswan Jazakallah ustad
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 9:27

Salewangang Ilmu Maros Krn kekurangan informasi.. saya hari ini sdh lebaran ..apa tindkan saya selanjutny krn tetap berkeyakinan sesuai prinsif keadilan di atas
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas
2
25 Juni pukul 9:30

Sinar Agama Tergantung alasan mengapa antum lebaran. Kalau memang yakin dengan kebenaran pemerintah dan yakinnya itu ilmiah artinya bukan karena dorongan ingin cepat berlebaran, maka tinggal diqadhaa' saja di lain waktu. Tapi kalau tidak, maka selain itu, wajib kaffarah juga.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 4:41

Umi Lailatussadi'ah Alhamdulillah ... Trimakasih ustadz sekarang sy sudah yakin
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 11:54

Hendi Is Haryadi Subandi Salam. Ustadz, perjalanan sebelum zuhur dihitung dari rumah atau batas kota kediaman?
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas
1
25 Juni pukul 12:35

Sinar Agama Dari batas kota asal. Begitu pula kembalinya di hitung di batas awal kota asal.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas
1
26 Juni pukul 4:42

Fernando Sonojoyo Salam ustadz apakah juga di Inggris jatuhnya lebaran tanggal 26 Juni 2017
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 12:39

Aran Mayerfas lain negara lain kondisi mas, harusnya antum rujuk ke syiah setempat
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 13:10

Sinar Agama Di Eropa memang kemungkinan besarnya hari Senin juga sebagaiman diumumkan dari personel kantor Rahbar hf. Tapi seperti yang dikatakan mas Aran, perhatikan para peukyat yang ada di sana walau sangat tipis kemungkinan lebaran di hari Ahad.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 4:46

Fernando Sonojoyo Terimakasih ustadz dan mas Aran Mayerfas
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas27 Juni pukul 8:14


Hildan Kita ke iran aja yuk, lebarannya lebih ma'nyosi 😂
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 13:25

Irsavone Sabit Bulan suci Ramadhan telah tercukupi
Telah sampailah hari yang fitri
Sucikan hati dengan berbagi

Maafkan kami bila ada hati yang tersakiti

Di hari yang berkah dengan senyum yang merekah
Mari lupakan hati yang gundah
lupakan amarah, hilangkan resah
Ulurkan tangan perekat ukhuwah 
agar hidup bahagia penuh berkah

Galang persatuan dan persaudaraan 
Ucapan maaf sebagai pesan
Untuk semua kerabat dan handaitolan
Taqabalallahu minna wa minkum
Minal aidin walfaizin
Mohon maaf lahir dan batin
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 14:18

Aran Mayerfas Ustad, benarkah kita sendiri jg wajib merukyat hilal walau hari ini sdh yakin hari terakhir ramadhan beserta sesuai yg diumumkan lembaga ABI?. 
bgmn misalnya kalau hari ini langit mendung atau ketiduran pulas sehingga tdk sempat merukyat?, apalagi tempat saya sangat sulit utk menyaksikan matahari terbenam.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 16:13Telah disunting

Sinar Agama Aran Mayerfas, tidak semua orang bisa merukyat dan tidak pula wajib merukyat. Tapi mengambil kesaksian rukyat dari orang lain itu ada syaratnya, seperti adil (tidak melakukan dosa besar dan kecil). Kalau ada dua orang saja yang adil telah menyaksikan bulan, maka wajib diterima oleh yang lain. 

Kalau ABi itu sulit dijadikan pedoman, sebab keplimplannya jelas dan terlihat nyari selamat dan untung saja. Di buku SMS dikatakan dengan jelas tidak wajib ikut marja', tapi kalau mengumumkan masalah hilal selalu bergaya ikut Rahbar hf. Padahal pemahamanannya sepintas, terlihat jauh sekali dari yang dimaksudkan Rahbhar hf. 

Mamang ,kalau saya benar dalam melihat ABI tersebut, maka bisa saja mereka salah paham, yakni bukan main politik-politikan. Tapi kalau mau main politik-politikan, maka akan tambah parah sekali ormas tersebut.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas
1
26 Juni pukul 4:52

Rudi Suwandi Nggak yakin dgn pemerintah sendiri, dlm hal ini kemenag dimn kemenag saat ini sdh ada kemajuan tdk anti syiah? ABI jg boleh pake sarana depag lho...
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 20:21

Sinar Agama Rudi Suwandi, wah antum sudah mujtahid nih.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 4:52

Rudi Suwandi Aneh saja falsafah ABI kali ini. Tak masuk dlm nalar sy dan tidak taktis.. IJABI lbh masuk dlm nalar saya yg jg menggunakan fatwa Rahbar utk ikut pemerintah setempat dimn NKRI memiliki kementrian agama dan menterinya beragama islam. Melibatkan 2 ormas ...Lihat Selengkapnya
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 5:50Telah disunting

Aran Mayerfas Mas Rudi, kayaknya antum salah memahami fatwa. Mengikuti pemerintahan bukan negara Islam itu wajib disertai keyakinan benar/tidaknya rukyat yang diumumkan. Yakin disini bukan yakin perasaan atau kehendak bebas lho ya, akan tetapi yakin pembuktian dan mengerti alasan ilmiahnya sebagaimana diterangkan dalam fiqh.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 7:53Telah disunting

Aran Mayerfas Coba mas Rudi fahami pernyataan fatwa ini baik baik, saya nukil nih:

Copas dr GWA
...Lihat Selengkapnya
Lihat Terjemahan
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 7:58

Rudi Suwandi Saya meyakini pemerintah saya sebagaimn sy meragukan ormas yg meragukan pemerintahan saya yg sdh melaksanakan Rukyah. Kebetulan sj secara fikih yg me-rukyah bkn bermazhab AB, sebagaimn sy bermakmum dgn imam sunni.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas
2
26 Juni pukul 12:05

Joko Sulistyo Sudah 1438 h tapi menentukan lebaran saja kalian masih ribut.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 12:33

Nanda Godenk Kalian menyesatkan ummat, untuk mencari hitungan lebaran aja' masih punya taklid, begooook,
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas29 Juni pukul 7:52


Muhammad Helmi Hasyim Klu gak anti syiah, syiah sampang kpn pulang kampung?
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas
1
25 Juni pukul 20:42

SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas25 Juni pukul 21:15

Kurnia Taqiyah
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas
2
25 Juni pukul 21:45

Zahra tiap tahun sibuk nentuin 1 syawal....
tiap tahun pula slisih pendapat tentang 1 syawal...
tiap tahun juga hrus saling berdebat karna 1 syawal...

tiap tahun hrus menyalahkan keyakinan orang lain padahal blm tentu yg di yakini benar lagi lagi karna 1 syawal....
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 7:01

Aran Mayerfas Antum terlalu baper, katanya perbedaan itu biasa?. Kita kan disini juga dalam rangka mengadakan diskusi demi menentukan kejelasan, sah-sah saja dong. Tidak ada saling salah-menyalahkan (provokatif) disini, meyakini pilihan sendiri dari yang lain dan mengemukakan ALASANNYA bukanlah tindakan provokatif.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas26 Juni pukul 8:02Telah disunting

Zahra ya..perbedaan itu memang harus ada....jika tdk ada prbedaan maka kita tdk akn pernah belajar .....
saya stuju pendapat anda..tp kenyataanya..krna perbedaan pendapat itulah perpecahan di mulai....jangan sok buta trhadap kenyataan...lihat sekitar anda...apa akibat dri perbedan itu.....??awalnya perbedaan itu indah
tpi ujung2nya pecah..
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas3 Juli pukul 5:56Telah disunting

Mohammad Yusuf Zahra SYIAH ya..

Ada yg BISA DI MUT'AH Ga..
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas2 Juli pukul 12:49

Zahra #muhammad yusuf..
ane bukan syi'ah...adapun iya ane bukan untuk di mut'h...tapi mau memut'ah jika ada, baragkali saudaramu bisa...!!??
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas3 Juli pukul 5:48


Sholeh Hidayat Saat ini persatuan adalah utama, persatuan mustahil tanpa kepercayaan...mulailah dari diri kita mempercayai saudara muslim yg lain...jng penuh curiga..sehingga masalah melihat hilal dipermasalahkan... kalau kita tdk percaya saudara kita , tdk ada alasan meraka mempercayai kita... kepercayaan adalah modal utama persatuan utk menghadapi musuh setan besar, itu yg utama..
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas27 Juni pukul 9:02

Ali Asytari Salam ustadz....

Saya awalnya ikut pemerintah.tp saya baru sadar di waktu sebelum imsak jangan2 besok belum lebaran atau masih ramadhan. Dan sy niat puasa sambil nunggu iinfo dari ustadz. waktu subunya belum ada info.tapi setelah solat id sunni sy 
buka fb dan ternyata sudah ada info bahwa hari minggu masih tetap puasa.
Waktu saya niat puasa begini : kalau minggunya lebaran maka saya tidak puasa.tp kalau masih ramadhan mk saya tetap puasa.
Dan ketika info dari ustad dari fatwa rahbar minggunya ramadhan mk sy berpuasa.

Apakah sdh benar niat dan perbuatan sy ustad....????
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas27 Juni pukul 9:32

Barry Ahad Apakah bapak Qurais Shihab itu Syi'ah juga?
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas28 Juni pukul 10:21

Asmil Aziz Ustad ada yg bisa Aku Mutah gak kalau ada boleh Anak pak ustad ngga,.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas
1
29 Juni pukul 10:41

SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas1 Juli pukul 23:49

Mohammad Yusuf Kami MENUNGGU KEBANGKITAN SYIAH LAKNATULLAH...

Yg MENGKAFIRKAN KHULAFAUR RASYIDIN...


SAYA AKAN LENYAPKAN DARI BUMI INDONESIA IN...

SEMOGA SADAR KALIAN...

SYIAH sdh pasti 

1. Ga HAFIDZ QURAN..
2. SUKA TAQQIYAH..
3. GA SHOLAT (krna ga wajib kalau lg males)
4. Bodoh tntg AHLUL BAIT krna yg di puja2 dr HUSAIN SAJA yg ke 5 anak Ali ga ada ISTIMEWAx...
Kcuali Husein (ibu persia)

5. Yg PALING BODOH DAN TOLOL WANITA2 SYIAH INDONESIA kalian ga NGACA KE IRAN APA...??

DI SITU BANYAK ANAK2 HASIL ZINA MUT'AH tnpa di ketahu BAPAKNYA...

BUKANKAH ANAK AMANAH ALLAH SWT, BAGAIMANA MENDIDIKNYA TANPA BAPAK DI SAMPINGNYA...

SATU KATA BUAT KALIAN UMAT LAKNAT APALAGI YANG MERASA USTAD..

LAKNAT ALLAH SWT BESERTA ANDA...

SADARLAH DAN KEMBALILAH KE JALAN YANG BENAR...

TAD KALAU ANDA MAU PAHALA ANAK WANITA ANDA MAU DI MUT'AH SAYA DAN RIBUAN MANUSIA BERSEDIA...

INI AKIBAT KEBODOHAN ANDA...
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas2 Juli pukul 13:00

Hikmah Karbala'i Rasulullah bersabda kepada Ali: Engkau & Syiahmu berada dalam Surga.
Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad.
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Balas5 Juli pukul 5:56

Sumber : https://www.facebook.com/sinaragama/posts/1299295683517219




0 comments:

Post a Comment

Andika Karbala. Powered by Blogger.