CATATAN UST SINAR AGAMA
BELAJAR FIQIH SYIAH IMAMIYAH DENGAN USTAD SINAR AGAMA
Sunday, November 27, 2016
Bagmn klw mislnya kita salah dalam memahami masalah fikih ,baik solat...puasa dll.atau juga salah dlm mslh akidah.misalnya syirik?
Link : https://web.facebook.com/sinaragama/posts/1058373900942733?_rdr
Ali Asytari
ke
Sinar Agama
22 Oktober
·
Salam ustadz..
Bagmn klw mislnya kita salah dalam memahami masalah fikih ,baik solat...puasa dll.atau juga salah dlm mslh akidah.misalnya syirik.....?
Trimksh
Suka
Tunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari
Bagikan
Kronologis
2
2
Komentar
Sinar Agama
Salam dan terimakasih pertanyaannya: Salah dalam akidah maka tingga merubahnya setelah tahu. Salah dalam fiqih maka dilihat apanya yang salah. Kalau berhubungan dengan thaharah (kesucian) maka biasanya shalat-shalatnya diqadhaa'. Kalau salah dalam masalah shalatnya, maka dilihat apa termasuk rukun atau tidak. Kalau rukun, maka wajib diqadhaa'. Kalau bukan maka ada yang diqadhaa' dan ada yang tidak perlu diqadhaa', tergantung apanya yang salah dan kenapa salah.
Begitu pula dengan puasa, haji, zakat, khumus dan lain-lain.
Suka
·
Balas
·
22 Oktober pukul 22:39
Ali Asytari
Lanjut tanyaannya ustadz SA....
Bgmn klw dlm kepahamanya yg salah itu baik akidah at fikih,baik yg syrik ala AB at yg wajib qhodo itu,kita mati dlm kesalhan keduanya smntara kita sdh berusaha bertanya dn memhamainya ttp masih salah.wlpn sdh dianggap benar kesalahannya itu....?
Suka
·
Balas
·
23 Oktober pukul 4:37
Sinar Agama
Ali Asytari, kalau usahanya sudah di jalan yang benar, misalnya sudah rajin (baca: rajinnya sampai mencukupi) bertanya/belajar agama kepada orang yang berilmu yang ilmunya didapat dari orang berilmu sebelumnya dan begitu seterusnya sampai menyambung kepada Makshumin as, tapi masih salah memahaminya, dan kalau kesalahan yang sudah diketahuinya itu dari jenis yang perlu qadhaa' dan perlu penyerahan hak-hak manusia itu, sudah diusahakan dengan baik untuk ditutupinya, lalu mati di tengah jalan maka insyaaAllah pengampunanNya menunggu kita. Tentu kalau kesalahan-kesalahan sebelumnya itu memang dikira boleh sekalipun dalam madzhab Sunni atau Wahabi yang biasa kita anut sebelumnya.
Walhasil, jenis kesalahan yang kita bahas sekarang ini adalah yang terjadi tanpa kesengajaan dan tanpa kesemisengajaan (sudah rajin yang cukup, bukan rajin yang masih belum memadahi) kita, misalnya dulu di Sunni halal sekarang di Syi'ah haram. Misalnya dulu di Sunni tauhid, sekarang di Syi'ah masih belum terhitung tauhid yang benar. Jadi, bukan kesalahan yang di Sunni juga dikatakan salah dan bukan kesalahan yang terjadi karena nekad seperti tidak tahu hukumnya tapi melakukannya, atau tidak tahu syirik atau bukan tapi masih nekad mengimaninya.
Suka
·
Balas
·
23 Oktober pukul 10:45
Ali Asytari
Trimakasih ustadz atas pencerahannya.
Suka
·
Balas
·
23 Oktober pukul 22:00
No comments:
Post a Comment
‹
›
Home
View web version
No comments:
Post a Comment